TIGA PESAN KUNCI MPS

Setiap persalinan ditolong tenaga kesehatan terampil
Setiap komplikasi obstetri dan neonatal ditangani secara adekuat
Setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanggulangan komplikasi keguguran

Renungan awal tahun

Jadikanlah diri mu pandai, agar rezeki mu adalah rezeki orang yang pandai, yang bermanfaat bagi banyak orang karena ilmunya.
Rajinkanlah diri mu, agar rezeki mu adalah rezeki orang yang melakukan banyak hal yang menyenangkan banyak hati, yang menjernihkan kehidupan orang yang sedang kalut, yang menguatkan mereka yang sedang lemah, dan yang menunjukkan jalan keluar bagi mereka yang sedang tersesat.
Jujurkanlah diri mu, agar rezeki mu adalah rezeki orang yang amanah dalam memangku tugas, yang menasehatkan kebenaran, dan menasehatkan kesabaran.Jadikanlah yang kau lakukan sebagai bukti dari kebenaran yang kau katakan.Dan janganlah engkau mengatakan yang tidak akan kau lakukan.
Setialah kepada yang benar.

Sabtu, 11 Juli 2009

Usulan Dana Dekon 2010


Yth Penanggungjawab KIA
Dinas Kesehatan Kab/ Kota

Mohon dapat mengusulkan kegiatan untuk Dana Dekon 2010 dengan format sebagai berikut. Untuk kolom keterangan dapat diisi dgn justifikasi perlunya kegiatan tersebut.
Terima kasih

Selasa, 02 Juni 2009

Pertemuan Nasional Pemantapan Pelayanan Rujukan di Lagoy

Pada tanggal 27-30 yang lalu, Direktorat Bina Kesehatan Ibu menyelenggarakan Pertemuan Tingkat Nasional Pemantapan Pelayanan Rujukan. Beberapa pointers penting yang disampaikan oleh Ibu dr. Sri Hermiyanti selaku Direktur Bina Kesehatan Ibu antara lain, dalam rangka PP AKI, determinan yang paling dekat untuk mencegah kematian adalah mengatasi komplikasi penyebab langsung kematian ibu yang terjadi seputar persalinan dan nifas. Cakupan Penanganan Komplikasi Kebidanan (PK) tahun 2008 baru 46 % dari 50 % yang ditargetkan, padahal PK merupakan salah satu indikator dari SPM Kabupaten/Kota bidang kesehatan yang mentargetkan pencapaian PK menjadi 80 % pada tahun 2015; dan juga keluaran Utama Rencana Kerja Pemerintah Bidang Kesehatan pada fokus ke 6 yaitu “Percepatan Penurunan AKI dan AKB; Perbaikan Gizi Masyarakat serta Pencegahan Penyakit” yang mentargetkan pencapaian PK menjadi 75 % pada 2010.

Beberapa penyajian menarik muncul dari Kab. Banjarnegara dan paparan hasil studi Immpact, FKM UI.

Banjarnegara melakukan penguatan di tingkat masyarakat, tingkat pelayanan kesehatan dan tingkat manajemen. Di tingkat masyarakat beberapa hal yang baru a.l SK Camat/ Kades untuk AMP sosial dan adanya penyuluh KIA, selain tentunya tetap meningkatkan fungsi Desa Siaga dan P4K. Ditingkat pelayanan, memperkuat Puskesmas PONEd yang dilakukan Assesment tiap 6 bulan, serta mikroplanning khusus KIA.

Untuk hasil Immpact, berdasarkan hasil tiga studi, terdapat beberapa temuan terkait rujukan a.l:
1. Jumlah kasus komplikasi yang ditangani oleh Rumah Sakit masih rendah menunjukkan kurang berfungsinya sistem rujukan (rujukan tidak terjadi)Rate Near Miss di RS 0,8% sedangkan komplikasi obstetri berat diperkirakan sebesar 2%.
2. Kondisi kasus rujukan yang sampai di RS banyak yang sudah tidak baik, menunjukkan kualitas pada rantai rujukan yang kurang baik.
MEngapa kualitas rujukan tidak baik, terkait dengan beberapa hal:
1. Pengetahuan dan ketrampilan klinis tenaga kesehatan (bidan) kurang
2. Tidak tersedianya alat transportasi yang memadai untuk melakukan rujukan, terutama untuk kasus-kasus emergensi baik yang berada di daerah ‘mudah’ dan apalagi di daerah ‘sulit’
3. Komunikasi antar tenaga kesehatan kurang efektif
4. Kurangnya alat dan obat untuk merujuk dengan baik

Pengetahuan dan ketrampilan klinis tenaga kesehatan (bidan) kurang sehingga tidak dapat berfungsi dengan adekuat. Fungsi tsb adalah:
1. Mengidentifikasi masalah obstetri yg memerlukan rujukan, contoh:
Bidan tidak mengenali tanda-tanda impending eclampsia (1 kasus dgn mual, pusing disuruh ke mantri, 1 kasus pandangan kabur ditanya ‘Kok bengong?’, 1 kasus kejang dikira karena tersedak)

Peran dalam proses rujukan:
Klinis: perencanaan, penanganan dan pemantauan pada saat rujukan. Contoh:
Bidan merujuk pasien dalam keadaan emergensi tetapi tidak ditemani
Bidan merujuk dan menemani pasien dengan angkot tetapi bidan duduk di depan, pasien di belakang dalam keadaan terinfus
Bidan melakukan plasenta manual pada saat perdarahan belum diatasi dan pasien belum stabil
Pada saat merujuk bidan memberikan obat dan cairan yg tidak sesuai
Non klinis: perencanaan sistem yg mendukung rujukan (dana, transportasi, donor darah, dll)
Bidan mengetahui pasien miskin, tetapi tidak disiapkan SKTM.

Banyak hal lain yang belum dapat disampaika disini, mudah-mudahan dapat disampaikan di pertemuan tingkat Provinsi.

Nah, beberapa kesepakatan dari hasil pertemuan a.l:
1. Memperbaiki sistem pencatatan penanganan komplikasi
2. Identifikasi masalah spesifik daerah yang menghambat penanganan komplikasi
3. Melakukan analisa indikator dan hasil kegiatan
4. Melakukan DTPS
5. Mengoptimalkan sistem rujukan
6. Mengefektifkan TIM AMP sebagai wahana untuk komunikasi sistem rujukan.

Cakupan PEnanganan Komplikasi di Provinsi Kepri saat ini masih sekitar 43%, untuk itu perlu dikaji lagi sistem pencatatan dan pelaporan KIA.
Terima kasih

Selasa, 05 Mei 2009

PELATIHAN PENINGKATAN KAPASITAS BIDAN DALAM APN (ASUHAN PERSALINAN NORMAL) MELALUI P2KS Tk. PROVINSI KEPULAUAN RIAU TAHUN 2009


Tingginya angka kesakitan dan kematian bayi di banyak negara berkembang, terutama disebabkan oleh pendarahan pasca persalinan, eklampsia, sepsis dan komplikasi keguguran.sebagian besar penyebab utama kesakitan dan kematian ibu tersebut dapat dicegah melalui upaya yang efektif, salah satu caranya yaitu menyiapkan tenaga kesehatan terampil. Hal tersebut perlu didukung dalam suatu wadah struktur jaringan, yang secara khusus bergerak dalam aspek pelatihan di bidang kesehatan reproduksi.

Menanggapi hal tersebut Departemen Kesehatan bersama organisasi profesi membentuk Pusat Pelatihan Klinik Sekunder (P2KS) di tingkat Provinsi yang bernaung dibawah JNPK-KR. Tim P2KS Provinsi Kepri telah terbentuk dan telah mendapatkan pelatihan APN di Jakarta. Diharapkan tim ini bukan hanya kumpulan fasilitator, tetapi juga harus meningkatkan kemampuan untuk menjadi Master of Trainer (MOT) berbagai pelatihan terkait pelayanan kesehatan ibu dan anak khususnya APN.

Tim P2KS Provinsi Kepri telah mengadakan "Pelatihan Peningkatan Kapasitas Bidan dalam APN" yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Kepri selama 10 hari tanggal 13-22 April 2009 di Tanjungpinang. Keterampilan yang diajarkan dalam pelatihan ini dapat diterapkan sesuai dengan standar asuhan bagi semua ibu yang bersalin pada tahap persalinan oleh penolong dimanapun hal tersebut akan terjadi. Fokus Asuhan Persalinan Normal (APN)itu senidri adalah persalinan bersih dan aman serta mencegah terjadinya komplikasi. Untuk itu pelatihan Asuhan Persalinan Normal dilaksanakan dengan sasaran utama adalah bidan-bidan yang masih memiliki pendidikan setingkat D1.

Senin, 23 Februari 2009

Undangan Pelatihan

YTH. Penanggung Jawab KIA Kab/Kota
Dalam rangka peningkatan Sistem Informasi dan Manajemen Data Kesehatan Ibu dan Anak sebagai salah satu pilar upaya penurunan angka kematian ibu dan anak, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau akan mengadakan kegiatan Peningkatan Kemampuan SDM Nakes dalam PWS dan AMP Provinsi Kepri tahun 2009. Kegiatan tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada hari Selasa sampai dengan Jum'at, tanggal 3 - 6 Maret 2009 bertempat di Plaza Hotel, Jl. MT. Haryono KM. 3,5 Tanjungpinang ( Pembukaan tanggal 4 Maret 2009, pukul 09.00 WIB). Peserta pelatihan terdiri dari Kasi/Pengelola program KIA Dinkes Kab/Kota, Penanggung Jawab Rekam Medis Rumah Sakit Kabupaten/ Kota, Bidan Koordinator
Jumlah peserta untuk masing-masing Kab/Kota adalah sebagai berikut :
  • Kota Tanjungpinan jumlah peserta 4 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 2 orang bidan koordinator puskesmas,1 orang peserta dari rumah sakit Kab/Kota
  • Kabupaten Bintan jumlah peserta 5 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 3 orang bidan koordinator puskesmas, 1 orang peserta dari rumah sakit Kab/Kota
  • Kota Batam jumlah peserta 5 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 3 orang bidan koordinator, 1 orang peserta dari rumah sakit Kab/Kota
  • Kabupaten Karimun jumlah peserta 5 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 3 orang bidan koordinator puskesmas, 1 orang peserta dari rumah sakit Kab/Kota
  • Kabupaten Lingga jumlah peserta 4 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 2 orang bidan koordinator, 1 orang peserta dari rumah sakit Kab/Kota
  • Kabupaten Natuna jumlah peserta 4 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 2 orang bidan koordinator puskesmas, 1 orang peserta dari rumah skit kab/Kota
  • Kabupaten Anambas jumlah peserta 2 orang terdiri dari 1 orang peserta dinkes dan 1 orang bidan koordinator puskesmas
  • Peserta dari Dikes Provinsi 1 orang

Bahan yang harus disiapkan
Masing-masing Kab/Kota menyiapkan presentasi mengenai Sistem Pencatatan Pelaporan KIA. Bahan yang disajikan terdiri dari :
  • Alur data pelayanan KIA dari unit terendah sampai dengan Dinas Kab/Kota meliputi Puskesmas, Rumah Sakit dan Swasta
  • Jenis Laporan yang digunakan dalam pencatatan dan pelaporan di puskesmas, rumah sakit dan swasta
  • Pelaksanaan Audit Maternal Perinatal di Kab/Kota
  • Kendala/permasalahan yang dihadapi di Kab/Kota
Perlengkapan yang di bawa peserta
  • Contoh seluruh form yang digunakan dalam alur sistem pencatatan pelaporan di puskesmas, rumah sakit dan swasta
  • untuk peserta dari Dinkes Kab/kota membawa laptop dan rekap data F1-F8 tahun 2008 dan laporan KB (soft &hard copy)
  • Untuk peserta diluar dinkes diharapkan dapat membawa laptop
  • Untuk peserta dari puskesmas membawa rekap laporan PWS dan AMP tahun 2008 serta laporan KB
  • Untuk peserta dari Rumah Sakit membawa rekap laporan Maternal dan Perinatal.
Demikian disampaikan, mohon dapat mempersiapkan bahan dan perlengkapan.

Kamis, 05 Februari 2009

SASARAN PROGRAM 2009

Yth. Penanggung jawab Program KIA Kab/ Kota.

Pada tanggal 10 Januari 2009 yang lalu, Seksi Kesehatan Keluarga telah mengadakan Rapat Lintas Program tentang Penetapan Sasaran Program Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Tahun 2009. Pada tahun 2008, terjadi perbedaan jumlah sasaran antara program KIA dan Imunisasi. Daftar BerbutirUntuk itu, pertemuan tersebut perlu dilakukan untuk mencapai kesepakatan terutama di tingkat provinsi.

Beberapa kesepakatan antara lain adalah CBR untuk menentukan jumlah bayi, disepakati sebesar 2,3 % untuk Kab/ Kota selain Batam. Sedangkan khusus untuk Batam masih belum dapat disepakati besaran CBR-nya. Lebih lanjut setelah dikoordinasikan dengan Dinkes Kota Batam, Bidang P2PL menentukan CBR sebesar 2,5%.

Penentuan jumlah sasaran Program Seksi Kesehatan Keluarga Tahun 2009 untuk masing-masing Kabupaten/ Kota se-Provinsi Kepulauan Riau ditentukan berdasarkan data yang bersumber dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Kepri tahun 2009.
Data sasaran yang diperoleh untuk sementara ini adalah jumlah penduduk, sasaran bayi dan sasaran ibu hamil per Kabupaten/ Kota.
  • Kota Tanjungpinang: jumlah penduduk 197.327 jiwa, sasaran bayi 4.539, sasaran ibu hamil 4.992.
  • Kabupaten Bintan jumlah penduduk 147.146, dengan sasaran bayi 3.384, serta sasaran ibu hamil 3.723.
  • Kota Batam Jumlah penduduk 801.799, sasaran bayi 20.045, dan sasaran ibu hamil 22.049.
  • Kabupaten karimun, jumlah penduduk 225.672, sasaran bayi 5.190, sasaran ibu hamil 5.710.
  • Kabupaten Lingga, jumlah penduduk 89.820, sasaaran bayi 2.066, sasaran ibu hamil 2.272.
  • Kabupaten Natuna dengan jumlah penduduk 126.026 mempunyai sasaran bayi sebanyak 2.899 serta sasaran ibu hamil sebanyak 3.188.
  • Total jumlah penduduk se-Provinsi Kepulauan Riau adalah 1.587.790 Jiwa.

Demikian disampaikan dan diharapkan Kabupaten/ Kota menindaklanjuti dengan menentukan sasaran untuk tingkat puskesmas.