Kepada Yth. PJ KIA Dinkes Kab/ Kota
Menindaklanjuti Pertemuan Revitalisasi PWS-KIA, dimana salah satu kegiatannya adalah mengenai Aplikasi Software KIA. UNtuk itu dimohon bantuan Bpk/ Ibu untuk memberikan update data wilayah (Kabupaten/ Kota, Kecamatan, Puskesmas dan Desa). Data tersebut akan kami kirim ke pusat, agar dapat dimasukkan sebagai master data dalam sofware tersebut. Di pusat sudah ada data Provinsi Kepulauan Riau, akan tetapi masih data lama, sehingga perlu dilakukan updating. Terima kasih atas bantuannya.
_________________________________________________
Kab/ Kota | Kecamatan | Puskesmas | Desa/ Kelurahan
_________________________________________________
_________________________________________________
Data dpt dikirim melalui email kesgakepri@gmail.com , dan fax ke 0771- 312620
Jumat, 31 Juli 2009
Sabtu, 11 Juli 2009
Usulan Dana Dekon 2010
Selasa, 02 Juni 2009
Pertemuan Nasional Pemantapan Pelayanan Rujukan di Lagoy
Pada tanggal 27-30 yang lalu, Direktorat Bina Kesehatan Ibu menyelenggarakan Pertemuan Tingkat Nasional Pemantapan Pelayanan Rujukan. Beberapa pointers penting yang disampaikan oleh Ibu dr. Sri Hermiyanti selaku Direktur Bina Kesehatan Ibu antara lain, dalam rangka PP AKI, determinan yang paling dekat untuk mencegah kematian adalah mengatasi komplikasi penyebab langsung kematian ibu yang terjadi seputar persalinan dan nifas. Cakupan Penanganan Komplikasi Kebidanan (PK) tahun 2008 baru 46 % dari 50 % yang ditargetkan, padahal PK merupakan salah satu indikator dari SPM Kabupaten/Kota bidang kesehatan yang mentargetkan pencapaian PK menjadi 80 % pada tahun 2015; dan juga keluaran Utama Rencana Kerja Pemerintah Bidang Kesehatan pada fokus ke 6 yaitu “Percepatan Penurunan AKI dan AKB; Perbaikan Gizi Masyarakat serta Pencegahan Penyakit” yang mentargetkan pencapaian PK menjadi 75 % pada 2010.
Beberapa penyajian menarik muncul dari Kab. Banjarnegara dan paparan hasil studi Immpact, FKM UI.
Banjarnegara melakukan penguatan di tingkat masyarakat, tingkat pelayanan kesehatan dan tingkat manajemen. Di tingkat masyarakat beberapa hal yang baru a.l SK Camat/ Kades untuk AMP sosial dan adanya penyuluh KIA, selain tentunya tetap meningkatkan fungsi Desa Siaga dan P4K. Ditingkat pelayanan, memperkuat Puskesmas PONEd yang dilakukan Assesment tiap 6 bulan, serta mikroplanning khusus KIA.
Untuk hasil Immpact, berdasarkan hasil tiga studi, terdapat beberapa temuan terkait rujukan a.l:
1. Jumlah kasus komplikasi yang ditangani oleh Rumah Sakit masih rendah menunjukkan kurang berfungsinya sistem rujukan (rujukan tidak terjadi)Rate Near Miss di RS 0,8% sedangkan komplikasi obstetri berat diperkirakan sebesar 2%.
2. Kondisi kasus rujukan yang sampai di RS banyak yang sudah tidak baik, menunjukkan kualitas pada rantai rujukan yang kurang baik.
MEngapa kualitas rujukan tidak baik, terkait dengan beberapa hal:
1. Pengetahuan dan ketrampilan klinis tenaga kesehatan (bidan) kurang
2. Tidak tersedianya alat transportasi yang memadai untuk melakukan rujukan, terutama untuk kasus-kasus emergensi baik yang berada di daerah ‘mudah’ dan apalagi di daerah ‘sulit’
3. Komunikasi antar tenaga kesehatan kurang efektif
4. Kurangnya alat dan obat untuk merujuk dengan baik
Pengetahuan dan ketrampilan klinis tenaga kesehatan (bidan) kurang sehingga tidak dapat berfungsi dengan adekuat. Fungsi tsb adalah:
1. Mengidentifikasi masalah obstetri yg memerlukan rujukan, contoh:
Bidan tidak mengenali tanda-tanda impending eclampsia (1 kasus dgn mual, pusing disuruh ke mantri, 1 kasus pandangan kabur ditanya ‘Kok bengong?’, 1 kasus kejang dikira karena tersedak)
Peran dalam proses rujukan:
Klinis: perencanaan, penanganan dan pemantauan pada saat rujukan. Contoh:
Bidan merujuk pasien dalam keadaan emergensi tetapi tidak ditemani
Bidan merujuk dan menemani pasien dengan angkot tetapi bidan duduk di depan, pasien di belakang dalam keadaan terinfus
Bidan melakukan plasenta manual pada saat perdarahan belum diatasi dan pasien belum stabil
Pada saat merujuk bidan memberikan obat dan cairan yg tidak sesuai
Non klinis: perencanaan sistem yg mendukung rujukan (dana, transportasi, donor darah, dll)
Bidan mengetahui pasien miskin, tetapi tidak disiapkan SKTM.
Banyak hal lain yang belum dapat disampaika disini, mudah-mudahan dapat disampaikan di pertemuan tingkat Provinsi.
Nah, beberapa kesepakatan dari hasil pertemuan a.l:
1. Memperbaiki sistem pencatatan penanganan komplikasi
2. Identifikasi masalah spesifik daerah yang menghambat penanganan komplikasi
3. Melakukan analisa indikator dan hasil kegiatan
4. Melakukan DTPS
5. Mengoptimalkan sistem rujukan
6. Mengefektifkan TIM AMP sebagai wahana untuk komunikasi sistem rujukan.
Cakupan PEnanganan Komplikasi di Provinsi Kepri saat ini masih sekitar 43%, untuk itu perlu dikaji lagi sistem pencatatan dan pelaporan KIA.
Terima kasih
Beberapa penyajian menarik muncul dari Kab. Banjarnegara dan paparan hasil studi Immpact, FKM UI.
Banjarnegara melakukan penguatan di tingkat masyarakat, tingkat pelayanan kesehatan dan tingkat manajemen. Di tingkat masyarakat beberapa hal yang baru a.l SK Camat/ Kades untuk AMP sosial dan adanya penyuluh KIA, selain tentunya tetap meningkatkan fungsi Desa Siaga dan P4K. Ditingkat pelayanan, memperkuat Puskesmas PONEd yang dilakukan Assesment tiap 6 bulan, serta mikroplanning khusus KIA.
Untuk hasil Immpact, berdasarkan hasil tiga studi, terdapat beberapa temuan terkait rujukan a.l:
1. Jumlah kasus komplikasi yang ditangani oleh Rumah Sakit masih rendah menunjukkan kurang berfungsinya sistem rujukan (rujukan tidak terjadi)Rate Near Miss di RS 0,8% sedangkan komplikasi obstetri berat diperkirakan sebesar 2%.
2. Kondisi kasus rujukan yang sampai di RS banyak yang sudah tidak baik, menunjukkan kualitas pada rantai rujukan yang kurang baik.
MEngapa kualitas rujukan tidak baik, terkait dengan beberapa hal:
1. Pengetahuan dan ketrampilan klinis tenaga kesehatan (bidan) kurang
2. Tidak tersedianya alat transportasi yang memadai untuk melakukan rujukan, terutama untuk kasus-kasus emergensi baik yang berada di daerah ‘mudah’ dan apalagi di daerah ‘sulit’
3. Komunikasi antar tenaga kesehatan kurang efektif
4. Kurangnya alat dan obat untuk merujuk dengan baik
Pengetahuan dan ketrampilan klinis tenaga kesehatan (bidan) kurang sehingga tidak dapat berfungsi dengan adekuat. Fungsi tsb adalah:
1. Mengidentifikasi masalah obstetri yg memerlukan rujukan, contoh:
Bidan tidak mengenali tanda-tanda impending eclampsia (1 kasus dgn mual, pusing disuruh ke mantri, 1 kasus pandangan kabur ditanya ‘Kok bengong?’, 1 kasus kejang dikira karena tersedak)
Peran dalam proses rujukan:
Klinis: perencanaan, penanganan dan pemantauan pada saat rujukan. Contoh:
Bidan merujuk pasien dalam keadaan emergensi tetapi tidak ditemani
Bidan merujuk dan menemani pasien dengan angkot tetapi bidan duduk di depan, pasien di belakang dalam keadaan terinfus
Bidan melakukan plasenta manual pada saat perdarahan belum diatasi dan pasien belum stabil
Pada saat merujuk bidan memberikan obat dan cairan yg tidak sesuai
Non klinis: perencanaan sistem yg mendukung rujukan (dana, transportasi, donor darah, dll)
Bidan mengetahui pasien miskin, tetapi tidak disiapkan SKTM.
Banyak hal lain yang belum dapat disampaika disini, mudah-mudahan dapat disampaikan di pertemuan tingkat Provinsi.
Nah, beberapa kesepakatan dari hasil pertemuan a.l:
1. Memperbaiki sistem pencatatan penanganan komplikasi
2. Identifikasi masalah spesifik daerah yang menghambat penanganan komplikasi
3. Melakukan analisa indikator dan hasil kegiatan
4. Melakukan DTPS
5. Mengoptimalkan sistem rujukan
6. Mengefektifkan TIM AMP sebagai wahana untuk komunikasi sistem rujukan.
Cakupan PEnanganan Komplikasi di Provinsi Kepri saat ini masih sekitar 43%, untuk itu perlu dikaji lagi sistem pencatatan dan pelaporan KIA.
Terima kasih
Selasa, 05 Mei 2009
PELATIHAN PENINGKATAN KAPASITAS BIDAN DALAM APN (ASUHAN PERSALINAN NORMAL) MELALUI P2KS Tk. PROVINSI KEPULAUAN RIAU TAHUN 2009
Tingginya angka kesakitan dan kematian bayi di banyak negara berkembang, terutama disebabkan oleh pendarahan pasca persalinan, eklampsia, sepsis dan komplikasi keguguran.sebagian besar penyebab utama kesakitan dan kematian ibu tersebut dapat dicegah melalui upaya yang efektif, salah satu caranya yaitu menyiapkan tenaga kesehatan terampil. Hal tersebut perlu didukung dalam suatu wadah struktur jaringan, yang secara khusus bergerak dalam aspek pelatihan di bidang kesehatan reproduksi.
Menanggapi hal tersebut Departemen Kesehatan bersama organisasi profesi membentuk Pusat Pelatihan Klinik Sekunder (P2KS) di tingkat Provinsi yang bernaung dibawah JNPK-KR. Tim P2KS Provinsi Kepri telah terbentuk dan telah mendapatkan pelatihan APN di Jakarta. Diharapkan tim ini bukan hanya kumpulan fasilitator, tetapi juga harus meningkatkan kemampuan untuk menjadi Master of Trainer (MOT) berbagai pelatihan terkait pelayanan kesehatan ibu dan anak khususnya APN.
Tim P2KS Provinsi Kepri telah mengadakan "Pelatihan Peningkatan Kapasitas Bidan dalam APN" yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Kepri selama 10 hari tanggal 13-22 April 2009 di Tanjungpinang. Keterampilan yang diajarkan dalam pelatihan ini dapat diterapkan sesuai dengan standar asuhan bagi semua ibu yang bersalin pada tahap persalinan oleh penolong dimanapun hal tersebut akan terjadi. Fokus Asuhan Persalinan Normal (APN)itu senidri adalah persalinan bersih dan aman serta mencegah terjadinya komplikasi. Untuk itu pelatihan Asuhan Persalinan Normal dilaksanakan dengan sasaran utama adalah bidan-bidan yang masih memiliki pendidikan setingkat D1.
Label:
P2KS
Senin, 23 Februari 2009
Undangan Pelatihan
YTH. Penanggung Jawab KIA Kab/Kota
Dalam rangka peningkatan Sistem Informasi dan Manajemen Data Kesehatan Ibu dan Anak sebagai salah satu pilar upaya penurunan angka kematian ibu dan anak, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau akan mengadakan kegiatan Peningkatan Kemampuan SDM Nakes dalam PWS dan AMP Provinsi Kepri tahun 2009. Kegiatan tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada hari Selasa sampai dengan Jum'at, tanggal 3 - 6 Maret 2009 bertempat di Plaza Hotel, Jl. MT. Haryono KM. 3,5 Tanjungpinang ( Pembukaan tanggal 4 Maret 2009, pukul 09.00 WIB). Peserta pelatihan terdiri dari Kasi/Pengelola program KIA Dinkes Kab/Kota, Penanggung Jawab Rekam Medis Rumah Sakit Kabupaten/ Kota, Bidan Koordinator
Jumlah peserta untuk masing-masing Kab/Kota adalah sebagai berikut :
Bahan yang harus disiapkan
Masing-masing Kab/Kota menyiapkan presentasi mengenai Sistem Pencatatan Pelaporan KIA. Bahan yang disajikan terdiri dari :
Dalam rangka peningkatan Sistem Informasi dan Manajemen Data Kesehatan Ibu dan Anak sebagai salah satu pilar upaya penurunan angka kematian ibu dan anak, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau akan mengadakan kegiatan Peningkatan Kemampuan SDM Nakes dalam PWS dan AMP Provinsi Kepri tahun 2009. Kegiatan tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada hari Selasa sampai dengan Jum'at, tanggal 3 - 6 Maret 2009 bertempat di Plaza Hotel, Jl. MT. Haryono KM. 3,5 Tanjungpinang ( Pembukaan tanggal 4 Maret 2009, pukul 09.00 WIB). Peserta pelatihan terdiri dari Kasi/Pengelola program KIA Dinkes Kab/Kota, Penanggung Jawab Rekam Medis Rumah Sakit Kabupaten/ Kota, Bidan Koordinator
Jumlah peserta untuk masing-masing Kab/Kota adalah sebagai berikut :
- Kota Tanjungpinan jumlah peserta 4 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 2 orang bidan koordinator puskesmas,1 orang peserta dari rumah sakit Kab/Kota
- Kabupaten Bintan jumlah peserta 5 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 3 orang bidan koordinator puskesmas, 1 orang peserta dari rumah sakit Kab/Kota
- Kota Batam jumlah peserta 5 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 3 orang bidan koordinator, 1 orang peserta dari rumah sakit Kab/Kota
- Kabupaten Karimun jumlah peserta 5 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 3 orang bidan koordinator puskesmas, 1 orang peserta dari rumah sakit Kab/Kota
- Kabupaten Lingga jumlah peserta 4 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 2 orang bidan koordinator, 1 orang peserta dari rumah sakit Kab/Kota
- Kabupaten Natuna jumlah peserta 4 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 2 orang bidan koordinator puskesmas, 1 orang peserta dari rumah skit kab/Kota
- Kabupaten Anambas jumlah peserta 2 orang terdiri dari 1 orang peserta dinkes dan 1 orang bidan koordinator puskesmas
- Peserta dari Dikes Provinsi 1 orang
Bahan yang harus disiapkan
Masing-masing Kab/Kota menyiapkan presentasi mengenai Sistem Pencatatan Pelaporan KIA. Bahan yang disajikan terdiri dari :
- Alur data pelayanan KIA dari unit terendah sampai dengan Dinas Kab/Kota meliputi Puskesmas, Rumah Sakit dan Swasta
- Jenis Laporan yang digunakan dalam pencatatan dan pelaporan di puskesmas, rumah sakit dan swasta
- Pelaksanaan Audit Maternal Perinatal di Kab/Kota
- Kendala/permasalahan yang dihadapi di Kab/Kota
- Contoh seluruh form yang digunakan dalam alur sistem pencatatan pelaporan di puskesmas, rumah sakit dan swasta
- untuk peserta dari Dinkes Kab/kota membawa laptop dan rekap data F1-F8 tahun 2008 dan laporan KB (soft &hard copy)
- Untuk peserta diluar dinkes diharapkan dapat membawa laptop
- Untuk peserta dari puskesmas membawa rekap laporan PWS dan AMP tahun 2008 serta laporan KB
- Untuk peserta dari Rumah Sakit membawa rekap laporan Maternal dan Perinatal.
Langganan:
Postingan (Atom)
