TIGA PESAN KUNCI MPS

Setiap persalinan ditolong tenaga kesehatan terampil
Setiap komplikasi obstetri dan neonatal ditangani secara adekuat
Setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanggulangan komplikasi keguguran

Renungan awal tahun

Jadikanlah diri mu pandai, agar rezeki mu adalah rezeki orang yang pandai, yang bermanfaat bagi banyak orang karena ilmunya.
Rajinkanlah diri mu, agar rezeki mu adalah rezeki orang yang melakukan banyak hal yang menyenangkan banyak hati, yang menjernihkan kehidupan orang yang sedang kalut, yang menguatkan mereka yang sedang lemah, dan yang menunjukkan jalan keluar bagi mereka yang sedang tersesat.
Jujurkanlah diri mu, agar rezeki mu adalah rezeki orang yang amanah dalam memangku tugas, yang menasehatkan kebenaran, dan menasehatkan kesabaran.Jadikanlah yang kau lakukan sebagai bukti dari kebenaran yang kau katakan.Dan janganlah engkau mengatakan yang tidak akan kau lakukan.
Setialah kepada yang benar.

Selasa, 05 Mei 2009

PELATIHAN PENINGKATAN KAPASITAS BIDAN DALAM APN (ASUHAN PERSALINAN NORMAL) MELALUI P2KS Tk. PROVINSI KEPULAUAN RIAU TAHUN 2009


Tingginya angka kesakitan dan kematian bayi di banyak negara berkembang, terutama disebabkan oleh pendarahan pasca persalinan, eklampsia, sepsis dan komplikasi keguguran.sebagian besar penyebab utama kesakitan dan kematian ibu tersebut dapat dicegah melalui upaya yang efektif, salah satu caranya yaitu menyiapkan tenaga kesehatan terampil. Hal tersebut perlu didukung dalam suatu wadah struktur jaringan, yang secara khusus bergerak dalam aspek pelatihan di bidang kesehatan reproduksi.

Menanggapi hal tersebut Departemen Kesehatan bersama organisasi profesi membentuk Pusat Pelatihan Klinik Sekunder (P2KS) di tingkat Provinsi yang bernaung dibawah JNPK-KR. Tim P2KS Provinsi Kepri telah terbentuk dan telah mendapatkan pelatihan APN di Jakarta. Diharapkan tim ini bukan hanya kumpulan fasilitator, tetapi juga harus meningkatkan kemampuan untuk menjadi Master of Trainer (MOT) berbagai pelatihan terkait pelayanan kesehatan ibu dan anak khususnya APN.

Tim P2KS Provinsi Kepri telah mengadakan "Pelatihan Peningkatan Kapasitas Bidan dalam APN" yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Kepri selama 10 hari tanggal 13-22 April 2009 di Tanjungpinang. Keterampilan yang diajarkan dalam pelatihan ini dapat diterapkan sesuai dengan standar asuhan bagi semua ibu yang bersalin pada tahap persalinan oleh penolong dimanapun hal tersebut akan terjadi. Fokus Asuhan Persalinan Normal (APN)itu senidri adalah persalinan bersih dan aman serta mencegah terjadinya komplikasi. Untuk itu pelatihan Asuhan Persalinan Normal dilaksanakan dengan sasaran utama adalah bidan-bidan yang masih memiliki pendidikan setingkat D1.

Senin, 23 Februari 2009

Undangan Pelatihan

YTH. Penanggung Jawab KIA Kab/Kota
Dalam rangka peningkatan Sistem Informasi dan Manajemen Data Kesehatan Ibu dan Anak sebagai salah satu pilar upaya penurunan angka kematian ibu dan anak, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau akan mengadakan kegiatan Peningkatan Kemampuan SDM Nakes dalam PWS dan AMP Provinsi Kepri tahun 2009. Kegiatan tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada hari Selasa sampai dengan Jum'at, tanggal 3 - 6 Maret 2009 bertempat di Plaza Hotel, Jl. MT. Haryono KM. 3,5 Tanjungpinang ( Pembukaan tanggal 4 Maret 2009, pukul 09.00 WIB). Peserta pelatihan terdiri dari Kasi/Pengelola program KIA Dinkes Kab/Kota, Penanggung Jawab Rekam Medis Rumah Sakit Kabupaten/ Kota, Bidan Koordinator
Jumlah peserta untuk masing-masing Kab/Kota adalah sebagai berikut :
  • Kota Tanjungpinan jumlah peserta 4 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 2 orang bidan koordinator puskesmas,1 orang peserta dari rumah sakit Kab/Kota
  • Kabupaten Bintan jumlah peserta 5 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 3 orang bidan koordinator puskesmas, 1 orang peserta dari rumah sakit Kab/Kota
  • Kota Batam jumlah peserta 5 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 3 orang bidan koordinator, 1 orang peserta dari rumah sakit Kab/Kota
  • Kabupaten Karimun jumlah peserta 5 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 3 orang bidan koordinator puskesmas, 1 orang peserta dari rumah sakit Kab/Kota
  • Kabupaten Lingga jumlah peserta 4 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 2 orang bidan koordinator, 1 orang peserta dari rumah sakit Kab/Kota
  • Kabupaten Natuna jumlah peserta 4 orang, terdiri dari 1 orang peserta dinkes, 2 orang bidan koordinator puskesmas, 1 orang peserta dari rumah skit kab/Kota
  • Kabupaten Anambas jumlah peserta 2 orang terdiri dari 1 orang peserta dinkes dan 1 orang bidan koordinator puskesmas
  • Peserta dari Dikes Provinsi 1 orang

Bahan yang harus disiapkan
Masing-masing Kab/Kota menyiapkan presentasi mengenai Sistem Pencatatan Pelaporan KIA. Bahan yang disajikan terdiri dari :
  • Alur data pelayanan KIA dari unit terendah sampai dengan Dinas Kab/Kota meliputi Puskesmas, Rumah Sakit dan Swasta
  • Jenis Laporan yang digunakan dalam pencatatan dan pelaporan di puskesmas, rumah sakit dan swasta
  • Pelaksanaan Audit Maternal Perinatal di Kab/Kota
  • Kendala/permasalahan yang dihadapi di Kab/Kota
Perlengkapan yang di bawa peserta
  • Contoh seluruh form yang digunakan dalam alur sistem pencatatan pelaporan di puskesmas, rumah sakit dan swasta
  • untuk peserta dari Dinkes Kab/kota membawa laptop dan rekap data F1-F8 tahun 2008 dan laporan KB (soft &hard copy)
  • Untuk peserta diluar dinkes diharapkan dapat membawa laptop
  • Untuk peserta dari puskesmas membawa rekap laporan PWS dan AMP tahun 2008 serta laporan KB
  • Untuk peserta dari Rumah Sakit membawa rekap laporan Maternal dan Perinatal.
Demikian disampaikan, mohon dapat mempersiapkan bahan dan perlengkapan.

Kamis, 05 Februari 2009

SASARAN PROGRAM 2009

Yth. Penanggung jawab Program KIA Kab/ Kota.

Pada tanggal 10 Januari 2009 yang lalu, Seksi Kesehatan Keluarga telah mengadakan Rapat Lintas Program tentang Penetapan Sasaran Program Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Tahun 2009. Pada tahun 2008, terjadi perbedaan jumlah sasaran antara program KIA dan Imunisasi. Daftar BerbutirUntuk itu, pertemuan tersebut perlu dilakukan untuk mencapai kesepakatan terutama di tingkat provinsi.

Beberapa kesepakatan antara lain adalah CBR untuk menentukan jumlah bayi, disepakati sebesar 2,3 % untuk Kab/ Kota selain Batam. Sedangkan khusus untuk Batam masih belum dapat disepakati besaran CBR-nya. Lebih lanjut setelah dikoordinasikan dengan Dinkes Kota Batam, Bidang P2PL menentukan CBR sebesar 2,5%.

Penentuan jumlah sasaran Program Seksi Kesehatan Keluarga Tahun 2009 untuk masing-masing Kabupaten/ Kota se-Provinsi Kepulauan Riau ditentukan berdasarkan data yang bersumber dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Kepri tahun 2009.
Data sasaran yang diperoleh untuk sementara ini adalah jumlah penduduk, sasaran bayi dan sasaran ibu hamil per Kabupaten/ Kota.
  • Kota Tanjungpinang: jumlah penduduk 197.327 jiwa, sasaran bayi 4.539, sasaran ibu hamil 4.992.
  • Kabupaten Bintan jumlah penduduk 147.146, dengan sasaran bayi 3.384, serta sasaran ibu hamil 3.723.
  • Kota Batam Jumlah penduduk 801.799, sasaran bayi 20.045, dan sasaran ibu hamil 22.049.
  • Kabupaten karimun, jumlah penduduk 225.672, sasaran bayi 5.190, sasaran ibu hamil 5.710.
  • Kabupaten Lingga, jumlah penduduk 89.820, sasaaran bayi 2.066, sasaran ibu hamil 2.272.
  • Kabupaten Natuna dengan jumlah penduduk 126.026 mempunyai sasaran bayi sebanyak 2.899 serta sasaran ibu hamil sebanyak 3.188.
  • Total jumlah penduduk se-Provinsi Kepulauan Riau adalah 1.587.790 Jiwa.

Demikian disampaikan dan diharapkan Kabupaten/ Kota menindaklanjuti dengan menentukan sasaran untuk tingkat puskesmas.

Jumat, 30 Januari 2009

PELATIHAN PENINGKATAN KEMAMPUAN BIDAN DALAM MANAJEMEN BBLR Tk. PROVINSI KEPULAUAN RIAU TAHUN 2008

Menurut survey demografi dan kesehatan Indonesia tahun 2002-2003, angka kematian balita sebesar 46 per 1.000 kelahiran hidup sedangkan angka kematian neonatal sebesar 20 per 1.000 kelahiran hidup. artinya, dalam 1 (satu ) tahun, sekitar 89.000 bayi umur dibawah 1 (satu) bulan meninggal. Setiap 6 menit ada 1 (satu) neonatus meninggal.
BBLR terdiri atas BBLR kurang bulan dari BBLR cukup bulan/lebih bulan. Upaya menurunkan angka kejadian dan angka kematiaan BBLR akibat komplikasi seperti asfiksia, infeksi, hipotermia, hiperbilirubinemia yang masih tinggi perlu ditunjang dengan perawatan teknologi tepat guna yang bisa dilaksanakan oleh petugas kesehatan. Tenaga kesehatan yang terampil dan kompeten dalam manajemen BBLR diharapkan dapat menangani kasus BBLR dengan baik dan benar, dan dapat menyebarkan pengetahuannya kepada keluarga mengenai penanganan BBLR menggunakan cara yang mudah dan sederhana.

PENINGKATAN KEMAMPUAN BIDAN DALAM MANAJEMEN ASFIKSIA Tk. PROVINSI KEPULAUAN RIAU TAHUN 2008


Proporsi kematian balita yang terbanyak adalah pada usia 0 s/d 28 hari dengan penyebab langsung kematian paling besar adalah Berat Badan Lahir Rendah( BBLR ) 29% dan Asfiksia 27%. Berbagai upaya yang aman dan efektif untuk mencegah dan mengatasi penyebab utama kematian bayi baru lahir adalah pelayanan antenatal yang berkualitas, asuhan persalinan normal/dasar dan pelayanan kesehatan neonatal oleh tenaga profesional. Untuk menurunkan kematian bayi baru lahir karena asfiksia, persalinan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan dan keterampilan manajemen asfiksia pada bayi baru lahir. Kemampuan dan keterampilan ini digunakan setiap kali menolong persalinan.
Terkait dengan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan baik dirumah maupun di tempat fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan sering kali dihadapkan dengan keadaan bayi lahir mengalami asfiksia. Pada keadaan demikian tenaga kesehatan harus melakukan sesuatu tindakan tertentu agar bayi baru lahir dapat bernafas spontan sesegera mungkin.